Ada Apa Dengan Bumiku?


Belum lama ini saya merasakan suatu fenomena alam yang baru pertama kali saya rasakan, yaitu gempa bumi. Peristiwa ini terjadi ketika saya tengah mengerjakan tugas kuliah di asrama sekitar jam sebelas malam. Kejadian itu sangat asing bagi saya hingga pada awalnya saya sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Setelah goncangan sedikit membesar, barulah saya sadar bahwa seluruh ruangan dan perabotan saya bergetar. Saya tercengang melihat sesuatu yang tidak biasa seperti ini. Bahkan sampai lupa lari sementara yang lain sudah menghambur keluar asrama. Di Jogja memang sering sekali terjadi gempa, tapi baru pertama kali ini saya rasakan. Apakah ini masih ada kaitannya dengan gempa besar di Tasikmalaya kemarin? Atau bencana-bencana yang banyak sekali terjadi belakangan ini? Sejak itu saya berpikir. Apa yang sebenarnya terjadi di dunia sekarang ini?

Saya berpikir ini adalah efek awal dari pemanasan global yang sedang melanda bumi kita ini. Ya, pemanasan global atau bahasa kerennya global warming. Tidak perlu lagi saya tulis apa itu global warming karena sudah umum sekali hal ini disebut. Akan tetapi walaupun istilah ini sudah sangat sering disebut, dijadikan wacana, dan sudah menjadi sesuatu yang diketahui hampir semua orang, pemanasan global hanyalah sesuatu yang dianggap sebagai angin lalu. Sesuatu yang tidak terlalu dipedulikan oleh manusia, terutama di Indonesia.

Padahal sudah jelas sekali efek awal dari fenomena yang baru pertama kalinya dalam sejarah ini menimpa saudara – saudara kita. Mulai dari meningkatnya suhu yang bisa dirasakan sekarang, banjir bandang yang melanda Sumatera Utara, longsor yang membunuh banyak orang, sampai gempa di Tasikmalaya kemarin. Alam sudah menunjukkan pada kita kemarahannya, dan waktunya kita mempertanggungjawabkan hasil dari perbuatan kita selama ini terhadap alam. Terhadap ciptaan-Nya. Ingat, ini baru dampak yang sangat kecil sekali dibandingkan dengan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Diperkirakan bahwa 20 sampai 40 tahun yang akan datang, akan terjadi banyak sekali hal yang tidak pernah kita lihat di dalam sejarah sebelumnya. Dikatakan bahwa pada masa itu, Kutub Utara sudah mencair dan dampaknya adalah banyak sekali daratan yang akan tenggelam seperti daratan Shang-Hai di China, Selatan India, Pesisir Florida, dan masih banyak lagi. Bahkan, pulau Jawa diprediksi akan menjadi pulau yang paling pertama tenggelam di dunia akibat ini. Lebih jauh lagi wabah kelaparan, bahkan kesulitan air bersih akan melanda dunia ini secara umum.  Dampak di Kutub Utara sendiri sudah sangat menyedihkan. Spesies – spesies hewan disana semakin terancam punah , seperti gambar di bawah ini.

Polar Bear at Dawn

http://media.photobucket.com/image/polar%20bear%20extinct/oliverkm/POLAR%20BEARS/polar_bears_drown.jpg?o=3

Beruang kutub atau polar bear adalah hewan khas Kutub Utara yang menjadi simbol benua arktik itu sendiri. Namun akibat dari ulah kita, mereka terkena imbasnya. Dataran es tempat tinggal mereka telah banyak yang mencair sehingga mereka kesulitan mencari mangsa mereka, dan akibatnya bisa berujung kepada kepunahan spesies ini. Pernah saya melihat di suatu acara TV yang memperlihatkan beruang kutub yang sudah menjadi begitu kurus sekali akibat kesulitan mencari mangsa. Sungguh mengenaskan jika kalian juga melihatnya di TV. Hal ini juga akan berdampak pada spesies-spesies lainnya di kutub utara seperti penguin, singa laut, dan lain-lain. Akan tetapi yang lebih mengejutkan lagi, diprediksi bahwa di masa yang akan datang dan dalam waktu yang dekat, spesies flora dan fauna yang akan punah mencapai angka 80% dari keseluruhan spesies. Sudah sebegini sakitkah bumi kita ini?

Sampai sekarang saya menganggap pemerintah sama sekali belum melakukan sesuatu yang serius untuk menghimbau masyarakat agar memperhatikan lingkungan hidup. Presiden memang sudah menyelenggarakan dan menghadiri berbagai konferensi yang membahas mengenai pemanasan global dan dampaknya, tetapi saya masih melihat bahwa pemerintah sendiri terkesan tidak melakukan apa – apa untuk ini. Kendaraan justru semakin banyak di Indonesia, bahkan dari apa yang saya baca (saya lupa sumbernya) Indonesia adalah salah satu penyumbang emisi gas CO2 terbesar yang berasal dari kendaraan. Di Eropa, banyak yang sudah memberlakukan peraturan – peraturan seperti penggunaan sepeda di Inggris, pengurangan emisi Co2 di Jerman dengan mengurangi tenaga fosil, atau banyak yang beralih ke sumber daya yang ramah lingkungan karena kesadaran mereka terhadap pemanasan global. Mereka sadar bahwa bumi yang kita tempati membutuhkan bantuan dari kita untuk bertahan. Mereka sadar jika tidak ada yang dilakukan mengenai hal ini, umur bumi tidaklah lama lagi. Lalu dimanakah peran kita wahai bangsa Indonesia?

Tentang Joevarian

Just an ordinary boy (or guy maybe? whatever!) who dreams for some unordinary things...
Pos ini dipublikasikan di General Geography & History, The Words dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ada Apa Dengan Bumiku?

  1. enggar handyani berkata:

    Enggar Handyani … awareness to all..! vote kopenhagen issue..!

    Climate Defenders Camp | Greenpeace International
    Sumber: bit.ly

    Today, everyone is talking about climate change but not many people are aware of the role that forests play in helping address this important issue. Forests store enormous quantities of carbon and when they are destroyed, this carbon is released. …see also ur email pease.!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s