Dilema Antara Kimia dan Psikologi


Sudahlah, Joe. Takdirmu memang berada di jurusan kimia, bukan psikologi. Apakah benar? Ya, mungkin benar. Allah SWT mungkin sudah berkehendak bahwa jalan saya berada di jurusan kimia, bukan jurusan lain. Saya harus bersyukur atas hal itu. Terlalu banyak yang diberikan Allah untuk saya, tapi apa balasan saya untuk-Nya? Sejak di Jogja, ibadah shalat 5 waktu tidak saya kerjakan. Janji saya kepada-Nya pun tidak saya penuhi. Belajarpun hanya setengah niat. Ya Allah, engkau begitu baik pada hamba-Mu ini, tetapi hamba-Mu, manusia hina ini selalu melanggar apa yang engkau perintahkan. Mengabaikan nikmat yang engkau berikan. Tapi saya tetap pada pendirian saya. Saya harus masuk psikologi. Kenapa Joe? Kenapa engkau begitu bebal? Syukurilah apa yang ada di hadapanmu, bukan yang belum jelas arahnya. Ya, benar sekali. Tapi saya tetap harus mencoba.

Mengapa psikologi? Psikologi adalah minat saya. Bahkan tidak hanya minat, tetapi saya juga ingin sekali melakukan sesuatu untuk ilmu ini. Saya ingin mengganggu dunia dengan ilmu ini (kutipan yang saya baca dari sebuah artikel hari ini, “Do I dare? Do I dare? Do I dare to disturb the world?”).  Alasan yang sederhana mungkin. Joe, seharusnya kamu bisa melakukan hal ini juga di kimia.

Tidak. Awalnya saya begitu bersemangat di jurusan kimia, tetapi seperti yang sudah saya duga sebelum saya masuk kuliah, saya tidak punya minat sedikitpun terhadap ilmu kimia. Ditambah lagi dengan ketidakmampuan saya mengikuti pace pengajaran dari para dosen. Kimia merupakan ilmu yang sangat menakjubkan, tentu saja. Seperti yang dikatakan salah satu dosen saya, “Life is chemistry, there is no life without chemistry”. Selama di jurusan kimia, saya telah melihat betapa menakjubkannya struktur dari unsur – unsur yang digambarkan lewat model atom mekanika gelombang. Betapa begitu teraturnya, terstrukturnya, indahnya ikatan – ikatan kimia terdapat dalam suatu senyawa. Subhanallah. Jika ditanya apa bukti kekuasaan Tuhan, maka saya akan menjawab, lihatlah kimia. Tapi kenapa saya selalu melihat kimia dari sudut pandang filsafat? Itulah saya, sang Intrapersonal. Saya tertarik dengan ilmu kimia, tetapi hanya dari sudut pandang filsafat. Apakah kimia itu, bagaimana kimia ini berguna untuk menyelesaikan masalah fundamental dari eksistensi, bagaimana kedudukan kimia dibandingkan dengan ilmu – Ilmu lain dalam akar filsafat ilmu pengetahuan, bagaimana menjelaskan asal – muasal dari ilmu kimia, siapa saja yang berperan dalam kemajuan ilmu kimia. Hanya sebatas itu.

Manusia, adalah makhluk yang paling ingin saya pelajari. Ada banyak sekali ilmu yang mempelajari manusia, diantaranya kedokteran yang mempelajari kesehatan manusia, sosiologi yang mempelajari interaksi antar manusia, antropologi yang mempelajari persebaran kehidupan manusia, psikologi yang mempelajari kejiwaan manusia, dan filsafat yang mempelajari makna kehidupan manusia. Tapi dari kesemua itu, saya sangat tertarik dengan kejiwaan manusia, makna eksistensi, dan kemungkinan – kemungkinan di masa depan dimana saya bisa mengabdi untuk ilmu ini. Bagaimana asal – muasal ketertarikan saya di bidang ini dan bagaimana saya bisa memilih kimia, saya perlu melakukan flashback ke masa lalu saya.

Ketika saya duduk di kelas X SMA, saya bukanlah orang yang mampu menarik banyak orang. Saya hanyalah seseorang yang puas berada di latar belakang dan tidak pernah diperhatikan orang lain. Ya, saya adalah seorang major introvert. Bahkan sampai sekarangpun saya tahu bahwa saya masih memiliki sifat itu, walaupun sudah agak berkurang dibandingkan dulu. Tapi pada saat itu saya tidak peduli. Saya sempat berpikir, “apa gunanya teman? Saya tidak butuh teman! Jangan mengumbar persahabatan yang memuakkan!” Tapi saya sadar itu semua hanyalah dalih yang saya buat. Itu semua hanyalah kebohongan. Tidak peduli seberapa penyendirinya seseorang, ia membutuhkan teman. Orang yang mengatakan kalau ia tidak butuh teman adalah omong – kosong. Itulah hakikat kita sebagai manusia, makhluk sosial, homo socius.

Pada saat itu hasil tes IQ dan bakat menunjukkan kalau saya cocok berada di rumpun ilmu kesehatan dan seharusnya tidak masalah apakah saya memilih jurusan IPA atau IPS di kelas XI nanti. Dalam tes itu, dikatakan kekurangan dalam diri saya adalah Penyesuaian Diri Dengan Lingkungan (dengan predikat “Sangat Kurang”) dan rasa empati (dengan predikat yang sama). Saya sudah bisa menduganya. Saya juga tidak peduli, bahkan pada saat itu saya merasa puas. Puas memberitahu orang lain kalau saya adalah makhluk penyendiri yang tidak memiliki rasa simpati dengan kalian, manusia.

Lalu untuk apa saya menceritakan hal itu? Ketika saya berada di kelas XI, saya sadar. Saya adalah orang yang sangat peduli terhadap lingkungan. Saya tidak tahan apabila tidak mengomentari semua yang diajarkan oleh guru saya disekolah (Pak Slamet, Pak Syam, Pak Zain, Bu Novie, maaf ya kalau terkadang saya agak ngotot ^_^). Ini sangat kontras dengan hasil tes bakat saya, dimana saya dikatakan tidak peduli terhadap orang lain, karena kebanyakan mata pelajaran yang saya komentari adalah yang berbasis manusia (Kewarganegaraan, Agama, Al-Qur’an, Sejarah). Hal ini didukung dengan buku yang saya baca, “Berpikir Positif Untuk Remaja” sehingga hal ini secara tidak langsung telah menumbuhkan kepercayaan diri saya (lihat postingan saya sebelumnya berjudul “Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri”).

Setelah kepercayaan diri saya meningkat, saya mulai mencoba mendaftar lomba pidato dan storytelling bahasa inggris tingkat kabupaten. Dan Alhamdulillah, saya menang. Hal ini menambah kepercayaan diri saya lagi sampai berlipat kali. Dari sini, saya ingin sekali menolong mereka yang major introvert untuk keluar dari belenggu ketidakberdayaan, mereka yang di-bully oleh temannya secara mental, mereka yang sangat tidak percaya diri. Karena saya tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu dulu, saya tidak ingin orang lain mengalaminya. Saya ingin sekali memperingatkan semua orang bahwa menghina (bullying) orang lain dapat membahayakan mental dan masa depan orang yang dihina (bullied person). Dari sinilah asal muasal saya ingin menjadi psikolog (terutama psikolog klinis). Keinginan itu terus meningkat seiring waktu berjalan.

Kelas XII pun tiba, dan saatnya memikirkan ujian saringan masuk PTN. Di kelas XII keinginan saya untuk masuk psikologi meningkat dikarenakan saya semakin sadar bahwa bakat saya berada di situ. Ditambah lagi juga banyak sekali yang mempercayakan saya untuk konsultasi jurusan yang ingin mereka masuki. Di kelas ini saya menjadi semacam counselor bagi mereka. Tapi ketika saya harus memilih jurusan, banyak hal yang menghadang saya masuk psikologi. PMDK UNIBRAW hanya memperbolehkan jurusan IPA untuk mengambil program studi IPA, sementara jurusan IPS mengambil program studi IPS. PMDK UIN Syarif Hidayatullah memiliki kekhususan Psikologi Islam, juga sedikit rumor tidak sedap mengenai Universitas ini. Akhirnya, hanya tersisa PMDK IPB yang kesemuanya adalah jurusan IPA. Hanya PMDK IPB yang saya ambil karena kendala diatas, dan jurusan yang saya ambil adalah biologi, dikarenakan kecintaan saya terhadap binatang.

Lalu saya memutuskan untuk ikut PBS UGM (saya ikut ini karena kesempatan saya masuk ke UGM sangatlah tinggi, dikarenakan ujian saringan PBS UGM berbarengan dengan SIMAK UI). Psikologi sudah menjadi agenda utama jurusan yang akan saya pilih. Tetapi ketika saya melihat kolom SPMA, saya agak kaget. Saya tidak ingin memberatkan orangtua saya dalam segi finansial. Psikologi membutuhkan dana 40 juta sehingga jurusan ini saya tidak mungkin saya pilih. Kenapa saya harus memilih masuk jurusan yang semahal itu kalau banyak alternatif yang lebih murah? Tapi pikiran bahwa kesempatan masuk UGM sangat besar terus terngiang di kepala saya.

Dan jadilah pilihan saya jatuh ke biologi lagi. Walaupun sangat berat, tapi saya harus melepas psikologi. Tapi apa pilihan ke-2 saya? Menurut passing grade, yang lebih rendah dari biologi itu adalah jurusan – jurusan geografi, pertanian, kehutanan, dan peternakan. Tidak ada minat sama sekali untuk masuk ke jurusan –jurusan seperti itu. Ketika saya melihat ke atas biologi, ada jurusan – jurusan kedokteran, teknik, dan MIPA. Akhirnya, karena bimbang pilihan saya jatuh pada kimia. Dan saya menaruhnya di pilihan pertama. Entah apa yang membuat saya bisa memilih kimia, padahal selama di SMA, kimia adalah pelajaran yang paling saya benci. Akan tetapi, Allah memiliki kehendak yang tidak satupun dari kita bisa menebaknya. Ya, saya masuk di jurusan kimia. Karena saya sangat senang bisa masuk UGM, maka langsung saya ambil jurusan ini. Seminggu kemudian, saya lulus PMDK IPB di pilihan pertama saya, yaitu biologi. Saya bimbang. Haruskah saya ambil? Tidak. Orangtua saya sudah cukup mahal membiayai PBS kemarin, yang harus segera dilunasi (UGM memang cerdik :D). Akhirnya PMDK IPB saya tinggalkan dengan perasaan sangat kehilangan.

Satu tahun telah berlalu sejak saat itu. Banyak sekali hal yang saya pelajari di kimia. Saya merasa bahwa saya tidaklah secerdas mereka yang benar – benar menggeluti kimia. Saya bertemu dengan mereka, mahasiswa UGM yang memiliki kepribadian menarik disini. Teman baik saya disini yang sangat pintar, teman – teman asrama yang bisa membuat saya tertawa, orang – orang jenius yang berperilaku aneh, mereka yang memiliki motivasi dan wawasan luas, serta banyak sekali kepribadian menarik lainnya. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memasukkan hamba-Mu ini ke Universitas Gadjah Mada. Pusat dari cendekiawan yang akan menjadi pemimpin Indonesia di masa depan. Tapi apakah saya akan berhenti disini daripada mengejar apa yang saya impikan, menjadi psikolog? Tidak. Dan saya harus berjuang untuk mendapatkan jurusan psikologi. Insya Allah, walaupun berarti saya harus keluar dari UGM.

Tentang Joevarian

Just an ordinary boy (or guy maybe? whatever!) who dreams for some unordinary things...
Pos ini dipublikasikan di Philosophy, The Words dan tag . Tandai permalink.

19 Balasan ke Dilema Antara Kimia dan Psikologi

  1. Realodix berkata:

    Segala keputusan g diberikan oleh Allah itu adalah merupakna yg terbaik utuk kita..
    Syukurilah atas nikmatnya yg telah diberikan kepada Anda..

  2. Fithri Noviati Harris berkata:

    tidak ada yg salah joe, sebab semua ilmu itu milik Allah. Ibu senang sekali krn kamu memiliki keperdulian thd jiwa manusia.. Kimia dan Jiwa! saling berkaitan kan? Didlm tubuh mns tdp unsur2 kimiawi, dan jika itu tdk berjalan normal, maka metabolisme tubuhnya juga akan terganggu dan jiwanya bisa ikut sakit. Kira2 begitulah.. Tentu kamu lbh paham. Joe, klo kamu merasa bhw “burning desire” kamu ada disitu (psikologi) ya gak pa2.. Ikuti kata hati kamu, tapi jgn sampai ini emosi sesaat. Mintalah petunjuk dari Allah, wasta’iinuu bisshabri wa shalat, mintalah pertolongan dg sabar dan shalat… dan klo kamu betul2 ingin mjd pakar dlm ilmu apapun, belajarlah dari pakarnya (yg terbaik!). Coba kamu browsing di http://www.adiwgunawan.com atau http://www.Quantum-Hypnosis.com Menurut ibu, dia the best di Indonesia untuk Mind Development (lbh dr sekedar teori psikologi). Atau kamu bisa cari buku2nya di gramedia, ada sekitar 15 buku. Tapi Joe.. klo boleh ibu sarankan, sebenarnya kamu bisa belajar 2 ilmu sekaligus. Ok Joe.. itu saja yg bs ibu sarankan sama kamu, mudah2an bermanfaat. Dan ibu tunggu hasil perenungan kamu. Salam…

    • Joevarian berkata:

      Terima kasih ibu Novie. Saya yakin ini bukan emosi sesaat. Saya benar – benar ingin mempelajari ilmu jiwa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hidup saya tanpa ilmu jiwa, bu. Saya setuju, bu. Mungkin benar saya bisa belajar sekaligus 2 ilmu, tapi saya ingin ilmu itu adalah psikologi dan filsafat. Ibu punya resep mungkin bu mengenai cara – cara meminta pertolongan kepada Allah SWT dalam keadaan seperti ini? Saya ingiiiiin sekali belajar psikologi.

      • Fithri Noviati Harris berkata:

        Ya klo cara/resep minta pertolongan Allah itu sesuai dg syari’at aja, spt dlm keadaan suci (badan dan pikiran), niat yg tulus / bersih, sungguh2 minta ampun kpd Allah atas segala khilaf, dan berdoa sepenuh hati tentunya. Mengenai ilmu filsafat yg kamu inginkan, menurut ibu sih tidak mesti dipelajari scr khusus. Krn filsafat itu bisa kita pelajari dari kehidupan.. Ok Joe, itu saja yg bs ibu sharingkan sama kamu.. Mulailah fokus pada satu hal, yg mjd YOUR BURNING DESIRE……, bURNING dESIRE…. Ada firman Allah mengenai hal ini: Wa idzaa ‘azamta falyatawakkal ‘alallah.. (dan jika kamu telah membulatkan tekad/memutuskan sesuatu, maka bertawakkallah kpd Allah!) Salam…

      • Joevarian berkata:

        Terima kasih, ibu. Saya jadi semakin bersemangat.

  3. zia berkata:

    saya suka kisahnya,, jadi mau ikut utul ugm lagi mas ?
    saya kemaren ikut utul, tapi ditolak sama psikologi
    malah dapet di pilihan 3, antropologi
    jadi ga saya ambil -_-
    ga punya kesempatan lagi buat ngejer psikologi ugm
    tapi sy ga nyerah, tetap berjuang untuk psikologi di ptn lain,

    • Joevarian berkata:

      Zia SPMB lover bukan? Iya kayaknya. hehe.

      Saya sedang berjuang untuk SNMPTN dan UMB besok. Gk di UGM pun juga gak papa.

      Jadi UTUL kemaren kamu gk diambil antropologi-nya? Atau kamu jadiin cadangan?

      Selamat berjuang ya buat UM psikologi di PTN lainnya. Doakan saya juga, ya zia. ^_^

  4. ina berkata:

    Soal dilema kimia, mungkin saya salah satu yang pernah mengalaminya, entah kenapa dulu saya memilih dengan sadar pilihan jurusan ini.
    Saya sudah menjalaninya, sampai lulus. tapi entah mengapa saya belum menemukan apa yang benar2 menjadi passion saya. saya kira saya tidak bodoh, tapi cukup lama saya baru bisa menyelesaikan study saya ini. saya bukan berasal dari keluarga yang berlebih, jadi putus ditengah jalan bukanlah pilihan, jadi saya pilih untuk menyelesaikannya.
    beruntung anda lebih mempunyai keberanian untuk memilih dan memutuskan di tahun pertama ini. semoga Allah menunjukkan jalan untuk anda.
    Dilema saya saat ini adalah meneruskan study saya di jurusan2 ilmu sosial (komunikasi) atau benar2 menemukan benar2 dimana minat saya terhadap ilmu kimia dan menemukan t4 yg tepat untuk meneruskan study ini.
    Seperti saya sebutkan saya bukan berasal dari keluarga berlebih, jadi pilihannya hanya satu, apapun itu. semoga Allah juga menunjukkan jalan untuk saya, Amin.

    • Joevarian berkata:

      Ya, saya sungguh tidak bisa membayangkan hidup saya tanpa kuliah di psikologi. Ya, saya doakan juga supaya anda menemukan tempat yang tepat sesuai dengan yang anda inginkan.

      Tapi ada satu hal yang saya tidak setuju, kak (saya panggil kak karena anda lebih tua dari saya). Jangan memutuskan bahwa nasib keluarga itu adalah penentu kesuksesan. Banyak teman2 saya yang masuk kuliah ditempat yang favorit dengan biaya yang sangat sedikit. Mereka tidak mau menyerah pada nasib. Saya harap anda bisa juga untuk tidak menyerah pada nasib.

      Terima kasih, kak untuk kisah hidupnya. ^_^

  5. phoebeyuu berkata:

    fuh… saya suka orang teguh pendirian seperti kamu, karena saya juga begitu. haha… yah,,, “orang akan memeluk seseorang dengan kehampaan yang sama” ya.
    terus berjuang aja. tapi kalau memang menurut Allah bukan disitu jalan kamu, ada baiknya mengikuti takdirmu sendiri. saya toh gagal masuk ke kedokteran akhirnya masuk ke jurusan serupa beda kajian. kenapa nggak kut simak ui? saya cuma bayar 100rb per semester.
    terus berjuang!🙂

    • Joevarian berkata:

      Benar sekali. Hehe.

      Wah, hebat. Kamu bisa dapet BOP-B yang cukup besar juga ya.

      Kalau boleh tahu, phoebe jurusan apa di UI? Apakah ilmu keperawatan? Kedokteran gigi? Atau Kesehatan Masyarakat?

  6. Anak UI berkata:

    Selamat Datang di FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS INDONESIA😀

  7. panah hujan berkata:

    Selamat, Joe! Saya mendoakan kamu jadi psikolog hebat dari Indonesia. Saya juga sangat cinta Psikologi dan saya senang orang yang gigih sepertimu meraih kursi di jurusan ini. Saya yakin sekali kamu akan sukses.

    • Joevarian berkata:

      Saya harap saya bisa. Oh, bukan. Saya yakin saya harus bisa!!

      So, jangan pesimis dengan harapan kamu. Yakinlah. Selalu ada harapan.
      Kalau boleh saya tau, kamu mau masuk psikologi?

  8. Anak UI berkata:

    Bukan. FISIP UI 2009

    UI 2009 satu ikatan satu perjuangan!

  9. nuril berkata:

    kak joe menjadi inspirasi saya (:.kebetulan saya jga punya minat masuk k FAKULTAS PSIKOLOGI,bahkan dari smp.o ya,aku setuju sama kaka “jgn memutuskan bahwa nasib keluarga itu adlh penentu kesuksesan”

    good luck buat ka joe ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s