Harapan dan Keajaiban


Mungkin saya harus mengawali cerita saya ini ketika saya masih berada di bangku mahasiswa kimia UGM. Bagi yang membaca postingan saya yang berjudul “Dilema Antara Kimia dan Psikologi”, mungkin tahu bahwa saya ingin sekali masuk ke jurusan psikologi walaupun status saya pada saat itu masih merupakan salah satu mahasiswa FMIPA UGM jurusan kimia. Jadi bisa dikatakan walaupun saya adalah mahasiswa kimia, hati saya berada di psikologi. Hal ini berakibat pada motivasi saya di jurusan kimia yang semakin hari semakin pudar saja.

Seiring dengan pudarnya motivasi saya di jurusan kimia, saya akui pada saat itu saya telah menjadi pribadi yang hancur (bagi mereka kawan – kawan saya di asrama atau di kimia mungkin tahu seperti apa saya pada saat itu). Saya benar – benar kehilangan arah dan maksud tujuan dari hidup saya. Hasilnya, pada saat itu saya malas sepanjang waktu, komunikasi dengan orangtua saya abaikan, ibadah dengan yang diatas tidak pernah lagi saya lakukan, dan banyak lagi hal – hal negatif lainnya. Ya, pada saat itu saya seperti kebanyakan pemuda lain yang belum bisa mencapai cita – cita mereka.

Tapi saya tidak mau hidup tidak berguna seperti itu terus – menerus. Saya putuskan bahwa saya harus bergerak. Saya harus bisa mewujudkan angan – angan saya, sehingga bukan lagi menjadi angan – angan semata, tetapi juga mewujudkan angan – angan itu. Saya harus masuk ke jurusan psikologi. Dan pada saat itu adalah masa pendaftaran untuk Ujian Tulis UGM (UTUL UGM). Tanpa ragu – ragu lagi saya mendaftar Ujian Masuk itu. Pada waktu itu, saya mendaftar di 3 program studi yaitu Psikologi UGM, Sastra Inggris UGM, dan Ilmu Kesejahteraan Sosial UGM.

Dalam mewujudkan mimpi saya itu, saya mulai membeli buku materi yang diujikan di UTUL. Diantaranya Sejarah, Geografi, dan Ekonomi. Waktu 3 minggu sebelum hari H saya habiskan mayoritas untuk pelajaran Sejarah. Sementara Geografi hanya mendapat porsi selama 1 minggu saja. Ekonomi, bisa dikatakan tidak saya pelajari sama sekali. Begitu pula Matematika Dasar (yang sesungguhnya sangat penting), Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (saya terlalu meremehkan kedua pelajaran ini).

Hari H pun tiba. Walaupun dengan persiapan pas – pasan, nyatanya saya tetap ikut ujian masuk akbar UGM ini. Ujian pertama adalah Tes Kemampuan Dasar (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris) dan Tes Potensi Akademik. Matematika Dasar? Haha. Hanya 5 nomor yang saya isi dari 20 nomor. 2 diantaranya salah. Bahasa Indonesia? Yah, lumayan. Dari kunci jawaban pun (yang tidak saya sebutkan sumbernya), saya mendapatkan hasil sekitar 50%. Tapi baru saya tahu di SSCi (tempat bimbel saya 1 bulan setelah UTUL) bahwa banyak sekali konsep – konsep Bahasa Indonesia di SMA yang tidak sebenarnya demikian. Dan ketika dicek kembali, ternyata kunci jawaban itu banyak yang tidak valid. Bahasa Inggris? Disinilah pelajaran terbaik untuk diri saya. Pelajaran untuk jangan pernah meremehkan sesuatu, apapun itu. Karena saya terlalu meremehkan, hasil Bahasa inggris pun tidak terlalu bagus. Hanya mendapatkan sekitar 35%. Tes Potensi Akademik? Tes termudah, memang. Tidak ada yang bisa dibilang sulit di TPA UTUL, berbeda dengan TPA PBS tahun lalu yang cukup sulit. Tapi baru saya tahu dari psikolog di Gadjah Mada Medical Center, bahwa untuk masuk ke UGM, TPA bukanlah faktor penentu, melainkan hanya faktor sampingan. Ujian kedua adalah Tes Kemampuan IPS (Ekonomi, Sejarah, Geografi). Ekonomi? Saya hanya bisa melongo tanpa bisa mengerjakan satupun soal di ekonomi. Hanya soal – soal seperti pasar persaingan dan pengetahuan umum yang bisa saya isi. Geografi? Yah, lumayan. Untuk yang satu ini, saya mendapatkan hasil sekitar 60%. Tapi setelah di cek di SSCi 1 bulan kemudian, ternyata sekali lagi kunci jawaban sumber saya banyak yang tidak valid. Sejarah? Awalnya saya begitu yakin. Tapi ternyata banyak sekali yang salah. Lalu setelah saya cek, secara keseluruhan saya mendapatkan hasil sekitar 35%. Cukup rendah untuk bisa masuk ke psikologi, tapi saya pikir mungkin masih bisa untuk masuk ke Ilmu Kesejahteraan Sosial (Sosiatri).

Nyatanya, pada pengumuman hasil UTUL UGM tanggal 17 April 2010, saya dinyatakan tidak lolos. Ini merupakan pukulan yang sangat keras bagi diri saya. Ini adalah pertama kalinya saya ditolak oleh Perguruan Tinggi tempat saya mendaftar. Setelah pengumuman itu, selama berhari – hari saya menjadi semakin kehilangan semangat dan tujuan. Tapi dari sini saya akhirnya sadar betapa pentingnya peran doa dan ibadah disamping usaha keras. Saya merasa bahwa pukulan ini justru membangkitkan semangat saya untuk berjuang lebih keras dan mulai melakukan apa yang sebelumnya tidak saya lakukan, yaitu meminta kepada-Nya. Tidak berhenti sampai disitu, saya mulai mendaftar di bimbingan belajar SSC Intersolusi yang direkomendasikan karena staf pengajarnya terkenal bagus.

Setelah mendaftar bimbingan belajar, saya mulai menyusun Life Mapping yang terinspirasi dari Life Mapping-nya John Goddard (Orang yang dijuluki The World’s Greatest Goal Achiever) yang dibuatnya ketika berumur 15 tahun dengan cita – cita hidupnya yang luar biasa. Isi dari Life Mapping-nya diantaranya menjelajahi 8 sungai terbesar di dunia; mendaki 16 gunung tertinggi; mempelajari kebudayan primitive di 12 negara; dan masih ratusan lagi banyaknya. Ia sudah berhasil melakukan semua yang telah ditulisnya dalam life mapping itu. Lalu bagian yang paling saya suka ketika ia ditanya apa yang membuatnya membuat life mapping seperti itu. Ia menjawab,

“Ada dua alasan penting. Pertama, saya muak dengan orang – orang dewasa yang menyarankan apa yang harus saya perbuat dan tidak boleh saya perbuat dalam hidup saya. Kedua, saya tidak mau menyesal ketika berusia lima puluh tahun nanti , saya tidak mencapai apa – apa.”

Karena terinspirasi oleh tokoh ini, akhirnya saya membuat life mapping saya sendiri mulai dari waktu dekat sampai dengan ketika saya berumur lima puluh tahun (Life mapping jangka panjang saya akan saya posting di postingan berikutnya). Saya menulis di dalam Life Mapping itu sasaran saya selama 1 bulan kedepan diantaranya:

  1. Mendaftar SNMPTN di jurusan Psikologi UGM, Psikologi UNAIR, atau Psikologi UI,
  2. Tidak pernah bolos mengikuti bimbingan belajar SSCi,
  3. Menguasai semua materi dalam SNMPTN (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi, Geografi, Sejarah, Sosiologi),
  4. Mendapatkan hasil try out dengan standar kelulusan Psikologi UGM, UNAIR, atau UI,
  5. Sudah masuk ke Fakultas Psikologi UGM, UNAIR, atau UI.

Lalu dimulailah hari – hari bimbingan belajar dan pendalaman materi. Life mapping yang saya tempel di kamar asrama saya ini telah berhasil memacu saya untuk terus berusaha baik itu di lingkungan SSCi maupun di asrama. Tiada hari yang tidak saya habiskan tanpa melahap soal – soal SNMPTN. Naik turun saya rasakan ketika Banyaknya godaan dan gangguan dari rasa malas yang sulit sekali dilawan. Akan tetapi selalu saya ingat, bahwa saya melakukan semua ini untuk mengubah kehidupan saya ke arah yang lebih baik. Saya terus berjuang dan berdoa kepada Allah Swt. Bahkan saya pun telah berjanji akan melakukan nasar apabila saya lulus di psikologi.

Ternyata sebelum SNMPTN, ada satu ujian saringan masuk yang diikuti oleh 12 PTN dari Perhimpunan SPMB, yaitu Ujian Mandiri Bersama – Perguruan Tinggi Negeri (UMB-PTN). UMB-PTN beranggotakan Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Andalas (UNAND), Universitas Jambi (UNJA), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Indonesia (UI), Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN Jakarta), Universitas Malikussaleh (UNIMAL), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Palangka Raya (UPR), Universitas Islam Negeri Makassar (UIN Makassar). Jika diperhatikan, hanya ada 2 universitas yang menjadi primadona di UMB-PTN, yaitu USU dan UI. Dari sini, bisa ditebak bahwa mayoritas dari 100 ribu peserta UMB-PTN akan memilih USU dan UI di pilihan pertama mereka. Sangat berat sepertinya, tapi tidak mengurangi niat saya untuk mencoba. Yah, hitung – hitung buat try out supaya mendapatkan gambaran jurusan apa yang harus saya ambil di ujian berikutnya.

Seperti kebanyakan peserta lain, pilihan pertama saya tentu saja Universitas Indonesia. Pilihan pertama saya juga sudah tentu Psikologi – UI. Lalu saya ambil pilihan kedua saya di kriminologi – UI (dengan pertimbangan S-2 nanti saya bisa mengambil Psikologi Kriminal atau Psikologi Sains Klinis). Pilihan ketiga, adalah jurusan terfavorit saya setelah psikologi, yaitu Filsafat – UI. Akan tetapi, ternyata pilihan ketiga saya haruslah berasal dari universitas yang berbeda (sekarang saya jadi tahu apa fungsi UI dan USU disini :P). Akhirnya, pilihan ketiga saya saya putuskan untuk masuk ke pilihan yang tidak menggunakan banyak pertimbangan (a.k.a. ngasal), yaitu Psikologi – UNJ.

Hari H pun tiba. Segala persiapan sudah saya lakukan, termasuk mengulang – ulang kembali semua latihan soal yang saya kerjakan. Saya bukanlah tipe yang bisa rileks sebelum ujian, jadi 1 hari sebelum ujian saya gunakan untuk terus memperdalam materi. Ujian pun dimulai. Saya melihat beberapa anak – anak SSCi juga hadir disitu.

Dimulailah ujian pertama, yaitu Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa). Saya agak terheran – heran melihat sampul depan dari soal, yang bertuliskan TNBK (Tes Nalar Berbasis Kurikulum). Jadi apakah soal – soal ini semuanya berbentuk penalaran? Saya sebelumnya belum pernah melihat soal – soal UMB tahun – tahun sebelumnya, jadi saya agak bingung. Ketika saya membuka Matematika Dasar, wow, ternyata ini yang dimaksud TNBK. Yang keluar bukanlah soal – soal yang langsung ke permasalahan materi, tetapi berbentuk studi kasus. Mirip kayak IPA Terpadu, tapi bedanya ini matematika sendiri. Dan tidak banyak yang bisa saya kerjakan di matematika ini. Bergerak ke Bahasa Indonesia, agak lega juga karena ngeliat soal yang serupa dengan SNMPTN. Dan beruntung saya mendapat tentor Bahasa Indonesia di SSCi yang memberikan materi dengan spesifik (walau kadang agak menakutkan), akhirnya Bahasa Indonesia bisa saya isi dengan yakin. Berlanjut ke Bahasa Inggris, Thank God. Soal – soal bahasa inggris tergolong lebih mudah jika dibandingkan soal – soal yang saya kerjakan di SSCi. Selesai ujian, peserta diberi waktu untuk istirahat selama 1 jam. Di waktu ini saya isi dengan berdoa agar tidak terjadi yang dinamakan faktor x, seperti kertas terlipat, robek, hilang, tidak terbaca, dsb.

Ujian kedua dimulai. Kembali soal TNBK dibagikan. Kalau tadi matematika dasar, sekarang Kemampuan Sosial (Ekonomi, Sejarah, Geografi) yang juga berupa studi kasus. Awalnya agak merinding, karena berpikir bakal mengerjakan 70 soal IPS terpadu. Akan tetapi, Alhamdulillah. Semua soal – soal yang diberikan sudah pernah juga diberikan materi-nya di SSCi. Di ekonomi tidak ada perhitungan yang ribet, di geografi yang keluar hanya materi standar. Yang bikin saya pusing setengah mati cuma sejarah. Mana saya tahu Universitas Darul Ilmi itu di negara mana. Lalu Omar Khayyam, penemu apa dia? Karena pernah mendengar namanya, jadi saya pilih ilmu aljabar (yang ternyata salah). Dengan waktu yang mepet, ujian pun selesai. Ya Allah, hamba sudah melakukan terbaik yang hamba lakukan. Apapun keputusan Engkau ya Allah, hamba akan menerima dengan lapang.

Dua hari kemudian,  di internet sudah bisa dijumpai hasil kunci jawaban UMB-PTN dengan sumber Bimbingan Belajar Medica (yang didedikasikan untuk USU) dan Bimbingan Belajar Nurul Fikri (yang didedikasikan untuk UI). Saya dengar, Nurul Fikri telah berhasil memasukkan banyak sekali anak didiknya ke Universitas Indonesia, jadi saya gunakan kunci jawaban Nurul Fikri untuk menyocokkan jawaban. Hasilnya sebagai berikut:

  • Matematika Dasar = Benar 3, Salah 4, Kosong 15
  • Bahasa Indonesia = Benar 14, Salah 10, Kosong 0
  • Bahasa Inggris = Benar 19, Salah 5, Kosong 0
  • Ekonomi = Benar 9, Salah 12, Kosong 2
  • Geografi = Benar 12, Salah 3, Kosong 8
  • Sejarah = Benar 11, Salah 4, Kosong 9

Rendahnya hasil saya (T.T). Matematika Dasar? No hope. Ekonomi yang tadinya banyak yakin, gak taunya justru yang paling banyak salah. Yang membuat saya yakin hanya nilai Bahasa Inggris. Karena sistem yang digunakan untuk masuk PTN bukanlah passing grade (karena passing grade memiliki banyak kelemahan) melainkan nilai persentil. Saya harap persentil bahasa inggris saya berada di atas 90%, Karena hanya ini yang bisa membuat saya yakin.

Dari sebuah forum yang saya ikuti yaitu SPMB Lover, saya mengetahui bahwa fastcount UMB-PTN sudah bisa diikuti. Tanpa ragu lagi saya ikuti fastcount ini karena tahun lalu, fastcount di forum ini memberikan hasil kelulusan yang cukup akurat. Ditambah lagi fastcount SIMAK UI 2010 lalu hasilnya juga banyak yang akurat, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mencoba fastcount ini. Seminggu kemudian, fastcount UMB-PTN keluar dan hasilnya, saya masuk di Kriminologi – UI. Saat itu saya senang sekali walaupun ini masih bersifat fastcount. Tapi kemudian saya bertanya pada diri saya, “Lalu bagaimana dengan Life Mapping yang kemarin kamu buat Joe? Bagaimana dengan psikologi?” Akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan UMB lalu beralih ke SNMPTN.

Setelah UMB, niat belajar saya memudar. Walaupun saya paksakan, tetap saja yang ada di pikiran saya hanyalah UMB, UMB, dan UMB. Menunggu memang sesuatu yang sangat menyebalkan. Karena terus kepikiran, sampai – sampai saya bermimpi lulus di psikologi UI. Tapi ketika terbangun, yaaah… ternyata semua cuma mimpi. Esoknya, saya bermimpi dikejar – kejar puluhan kalajengking (serem banget nih mimpi). Entah apa arti dari mimpi kedua itu. Hari – hari menunggu saya lewati dengan lesu tanpa mengerjakan soal – soal SSCi lagi.

Selasa, 8 Juni 2010 pukul 18.30, saya bergegas ke warnet untuk melihat pengumuman UMB. Seperti yang sudah saya duga, jam 6 sore sd. Jam 9 malam nanti adalah jam tersibuk dari hari ini. Selama 15 menit, pengumuman belum juga terbuka. Lalu saya putuskan untuk masuk ke forum SPMB Lover terlebih dulu. Ternyata yang online di forum tersebut ada banyak sekali. Sekitar 200 member ada disitu. Lalu dari salah satu thread yang sering saya buka, saya melihat administrator forum ini mengatakan,

“Selamat yak buat Joe yang dapet Psikologi UI nih…..”

Glegaaar!!! Kata – kata ini bagai petir di siang bolong. Tapi saya belum percaya. “Apakah benar? Apakah benar? Benar Psikologi UI? Jangan – jangan Psikologi UNJ.” Pertanyaan itu saya tanyakan pada administrator yang sering dipanggil kak je ini. Ada satu member lain yang diterima di Manajemen UI menyarankan saya untuk tidak masuk ke spmb.or.id, melainkan penerimaan.ui.ac.id. Lalu saya coba masuk ke situ, dan ternyata bisa langsung masuk. Ketika memencet tombol enter setelah memasukkan nomor peserta dengan tangan gemetar dan jantung serasa mental dari badan, akhirnya yang terbuka adalah:

Nama

JOEVARIAN

Nomor Ujian

5104500136

Periode

2010/1

Selamat, Anda diterima di Universitas Indonesia

Program Studi

Psikologi

Program Pendidikan

S1 Reguler

Jalur Masuk

UMB

Selama beberapa saat saya melongo. Saya belum sadar apa yang terjadi. Dan ketika sadar, HOOOORRRRAAAAAAYYYYY!!!!!! Langsung saja saya serasa berada di padang rumput hijau, luas, wangi, dan menyegarkan (hehe, kayak di film – film India). Perasaan saya benar – benar tidak karuan saat itu. Ya Allah, betapa besar nikmat yang telah engkau berikan kepada hamba-mu yang tidak pernah merasa puas ini. Sungguh, ini sangat berarti bagi hamba. Terima kasih ya Allah, sesuai janji, nasar akan hamba penuhi.

Dengan demikian berakhirlah perjuangan saya untuk bisa masuk dan belajar di fakultas psikologi. Saat ini bisa dikatakan saya sedang berada di puncak kebahagiaan. Akhirnya saya sudah selangkah dari maju dari cita – cita saya, yaitu menjadi psikolog yang meneliti dunia kriminal dan dunia psikologi abnormal. Psst!! dalam hati saya sepertinya tahu mengapa 1 tahun ini saya harus berada di kimia UGM. Wallahu’alam. Terima Kasih ya Allah.

Tentang Joevarian

Just an ordinary boy (or guy maybe? whatever!) who dreams for some unordinary things...
Pos ini dipublikasikan di General, The Words. Tandai permalink.

3 Balasan ke Harapan dan Keajaiban

  1. liza yudhita berkata:

    wow, dr psikologi UI..
    ga sengaja nemu di google..

    selamat datang ya
    welcome to the club😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s